@Erna:
Seekor semut berjalan ke arah Sang gajah. Sesampainya di telinga Sang gajah, semut berbisik. Seketika itu Sang gajah pingsan.
Semut
Aku sudah tidak sanggup menanggungnya sendiri. Aku akan mengatakannya. Jujur.
Sang gajah
Ia datang, ia terlihat sangat kecil dari pandanganku. Imut sekali. Kekasihku tercinta. Ia sampai di daun telingaku dan berbisik pelan. Tapi aku jelas mendengarnya, "Saiiiang, aku hamil. Kamu harus tanggung jawab!"
Fiksimini adalah cerita yang sangat singkat. Jauh lebih singkat dari cerpen. Fiksimini terdiri dari 140 karakter, sudah termasuk nama pengarang, spasi, dll. Singkat banget kan? Tapi isinya padat dengan tokoh, karakter, plot, konflik, dll seperti pada karya sastra fiksi lainnya.
Jika dilihat fiksimini adalah karya yang teramat sederhana. Tetapi, untuk mereka yang membaca dan menulis fiksimini, ada suatu yang sangat unik. Pembaca dibuat berimajenasi liar. Karena tuntutan minim karakter maka fiksimini menjadi biasa jika akhirnya mengambang, tetapi justru ini yang membuat pembaca seperti memiliki kesempatan melanjutkan cerita. Terkadang ada fiksimini yang absurd, dan sekali lagi pembaca hanya tertawa sambil menganalisis maksud penulis. Tantangan besar untuk penulis menyajikan sebuah cerita singkat dan padat.
Asal-muasal Fiksimini
Sebenarnya fiksimini sudah biasa kita jumpai tapi baru beberapa bulan kebelakang nama fiksimini mulai digunakan untuk mengidentifikasi. Seperti pada blog ngupingjakarta.blogspot.com, isi blog ini bisa disebut fiksimini.
Dua bulan kebelakang sebutan fiksimini mulai dipopulerkan olah Agus Noor dkk. Agus Noor mungkin sudah tidak asing lagi, Ia seorang penulis cerpen (cerpennya sudah banyak dipublis di sejumlah media masa nasional), penulis naskah monolog, dll. Agus dkk berusaha mempopulerkan fiksimini lewat twitter, dan dalam dua bulan sudah banyak orang yang kecanduan membuat fiksimini.
Seperti apa sie Fiksimini?
#RT @dedirahyudi: Dia kirim mimpi buruknya di padi hari. Malamnya mimpi itu kembali lagi. Prangkonya kurang!
Atau
@dimatanya
ANJING : Ketika orang-orang itu berteriak “Anjing!”, aku jadi teringat akan masa laluku sendiri.
Simple banget kan!!!
Fiksimini telah menjadi sebuah karya sastra yang dengan mudah sampai ke semua golongan masyarakat. Ini menepis anggapan sastra adalah ilmu yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu, atau sastra itu bikin pusing.
Nah, sekarang mana fiksimini-mu?
@KN : Aku dibuat semakin kesal, ketika mati lampu setelah pemadaman listrik bergilir selesai!